Bermula dari ide tentang artikel santai yang ringan dan mudah dicerna, eksistensi dari blog ini lebih diarahkan sebagai media komunikasi yang berisi kumpulan tulisan dan pemikiran sederhana tentang fenomena ringan di sekitar kita.

Diharapkan blog ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk olah kreativitas berwujud buah pena, yang dapat dikonsumsi oleh semua pihak dalam lingkup bersahaja, ringan, santai, dan praktis.

Mettacittena,
STEP

DAFTAR ISI BLOG
klik link di atas untuk melihat seluruh artikel
I don't love a woman because of her beauty,
but she is beautiful because I love her

Bubur Mutiara Phoenix

Tahun 184 Masehi, waktu itu daratan China dilanda kekacauan setelah kejatuhan dynasti Han. Negri kacau balau dan terbagi menjadi wilayah kekuasaan, karena masing-masing gubernur mendirikan kerajaan sendiri. Saat itu terjadi pemberontakan besar-besaran dari kelompok yang menamakan diri Klan Sorban Kuning (The Yellow Turban), yang dipimpin oleh Zhang Jiao. Ini adalah masa sebelum China terbagi menjadi 3 negara yang terkenal dengan roman sejarahnya yang melegenda, yaitu Three Kingdoms / San Guo (Sam Kok), sebelum Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei saling mengangkat saudara dan kemudian mendirikan negara Shu (salah satu dari 3 negara).

Ketika itu, Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei, bahu membahu menumpas kelompok pemberontak Sorban Kuning yang sedang mengacau dan memporak-porandakan desa Lou Sang (kampung halaman Liu Bei), di provinsi Zhuo, China bagian tengah. Setelah berhasil memukul mundur kelompok pemberontak dan membuat Zhang Jiao melarikan diri, mereka bertiga beristirahat karena lelah dan terluka di pemukiman penduduk. Kepala desa yang menjamu mereka kebingungan, apa yang harus disediakan untuk jamuan makan, karena desa sedang dilanda paceklik, wabah penyakit di mana-mana dan kemiskinan pun merajalela. Akhirnya dengan dibantu oleh para pemuka masyarakat, isteri kepala desa memasak bubur yang dicampur dengan sayur yang telah diasinkan.

Karena kelelahan dan sebagian terluka, Liu Bei dan anak buahnya, termasuk Guan Yu & Zhang Fei memakan bubur itu dengan penuh suka cita. Rasanya sungguh lezat, sehingga Liu Bei bertanya kepada kepala desa, "Makanan apakah ini? Seumur hidup aku belum pernah menyantap bubur selezat ini...!" Kepala desa kebingungan, karena bubur buatan isterinya itu hanya terbuat dari sisa-sisa beras yang tidak dimakan hama, ditambah sedikit sayuran yang telah digarami. Karena yang bertanya adalah tamu penting, maka si kepala desa pun terpaksa berbohong, dia menjawab bahwa masakan itu bernama Bubur Mutiara Phoenix. Wow.. Nama yang keren sekali untuk semangkuk bubur beras campur sayur asin.

Beberapa tahun setelah peristiwa di Desa Lou Sang. Kerjaan Shu telah terbentuk, berdampingan dengan Kerajaan Wu yang dipimpin Sun Quan, dan Wei yang dipimpin oleh Cao Cao. Liu Bei sudah dapat merasakan kemewahan tinggal di Istana Shu. Makanan berlimpah, ada daging, buah, berbagai macam kue. Hingga dia merasa bosan dengan semua makanan yang ada. Tiba-tiba Liu Bei teringat peristiwa beberapa tahun silam ketika dia berada di Desa Lou Sang. Dia teringat bubur Mutiara Phoenix, dan ingin menyantap makanan lezat itu sekali lagi. Liu Bei pun berangkat ke Desa Lou Sang ditemani Zhuge Liang, penasehatnya dan Zhao Yun, pengawalnya yang setia. Sesampainya di desa Lou Sang, dia menemui kepala desa dan meminta isteri kepala desa untuk membuatkan lagi bubur Mutiara Phoenix. Ketika itu desa Lou Sang sudah bertambah baik keadaannya. Tapi karena khawatir masakannya berbeda, isteri kepala desa tetap membuat bubur beras putih yang dicampur sayur asin biasa. Sama persis yang disantap Liu Bei beberapa tahun silam.

Tapi aneh sekali, Liu Bei tidak lagi merasa bahwa bubur itu lezat. Bahkan dia pun akhirnya menyadari bahwa yang disantapnya itu hanyalah bubur beras dicampur asinan sayur biasa. Liu Bei kecewa sekaligus penasaran, apa yang membuat bubur itu lezat ketika disantap beberapa tahun silam?

Ketika berperang melawan Zhang Jiao tahun 184 Masehi, Liu Bei dalam kondisi lelah, kacau, terluka, dan serba kekurangan akibat perang. Bisa menyantap bubur saja sudah bisa memberinya rasa syukur luar biasa. Sehingga bubur biasa pun terasa lezat. Saat itu mungkin bubur sayur asin adalah makanan terbaik yang tersedia, sehingga seperti apa pun bentuknya, tetap mampu memberikan kepuasan tak ternilai.

Saya selalu teringat kisah di atas, terutama ketika lewat warung penjual steak. Dulu waktu masih bekerja jadi tukang jualan dan punya penghasilan yang cukup banyak, steak tepung kelas warung rasanya sungguh tidak enak bagi saya, karena saya mampu membeli yang kelas cafe / resto. Sekarang ketika kondisi finansial sedang tidak memungkinkan untuk membeli makanan yang mahal, maka steak tepung kelas warung pun jadi menu favorit, dan... Kenapa sekarang terasa enak yah? Hehehe. Mungkin kita sering kali mengalami hal seperti itu. Pada saat kekurangan, hal kecil mampu memuaskan kita, tetapi ketika berkelimpahan, kita lupa bersukur dan tidak lagi bisa dipuaskan oleh keadaan sehingga mencari-cari hal yang berlebihan. Ketika kita berada di gurun pasir, seteguk air bisa sangat berharga dan kita syukuri, tetapi ketika di sekitar kita melimpah ruah minuman lezat, bahkan sebotol anggur terbaik yang berharga puluhan juta tidak mampu memuaskan dahaga kita.
Maha Atma Gandhi pernah berkata, dunia ini mampu menyediakan kebutuhan bagi berapa banyakpun orang yang lapar, tetapi tidak mampu memenuhi satu pun permintaan orang serakah yang tidak tahu bersyukur.

0 Respon: