Bermula dari ide tentang artikel santai yang ringan dan mudah dicerna, eksistensi dari blog ini lebih diarahkan sebagai media komunikasi yang berisi kumpulan tulisan dan pemikiran sederhana tentang fenomena ringan di sekitar kita.

Diharapkan blog ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk olah kreativitas berwujud buah pena, yang dapat dikonsumsi oleh semua pihak dalam lingkup bersahaja, ringan, santai, dan praktis.

Mettacittena,
STEP

DAFTAR ISI BLOG
klik link di atas untuk melihat seluruh artikel
I don't love a woman because of her beauty,
but she is beautiful because I love her

Berbagi

Well lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Untung saja blog tidak ada masa expired-nya, karena apabila tidak, maka mungkin cipthawacana sudah terhapus dari dunia maya.

Beberapa hari lalu seperti biasa saya belanja di Carrefour bersama Nana. Tidak banyak yang kami beli, hanya beberapa barang kebutuhan rutin saja seperti shampoo, sabun cair, snack, dan tidak ketinggalan, minuman luar biasa yang harus selalu ada di meja kerja saya, yaitu kopi. Saya pernah mengatakan pada seorang teman wanita ketika berkesempatan minum kopi berdua di Starbuck bahwa coffee is the most amazing beverage that ever been invented, dan teman saya itu menjawab, too much coffee will kill ya! Hehehe. Tetapi saya tidak lagi ingin bercerita soal kopi kali ini, melainkan sebuah fenomena unik yang saya lihat ketika menaiki tangga ekskalator di Duta Pertiwi Mall, menuju ke lantai 1 tempat Carrefour berada.

Sekelompok anak, mungkin usianya sekitar 7-10 tahun. Mereka berjumlah 6 orang. 2 perempuan dan 4 laki-laki. Anak perempuan paling kecil membawa 1 buah Coned Ice Cream. Mungkin itu pemandangan yang biasa, tetapi saya terkesima ketika melihat satu per satu anak-anak itu menjilat secara bergantian Coned Ice Cream itu. Yaikkksss.. Nana langsung bergidik sambil berkata kepada saya, “Ice creamnya jadi rasa nano-nano tuh…” Bagi Nana mungkin itu pemandangan yang menjijikkan, bagaimana sebuah ice cream dijilat bergilir dan bergantian oleh 6 orang anak. Tetapi ada rasa haru di dalam hati saya, karena walau sekilas menjijikkan, tetapi anak-anak itu tampaknya sangat mengerti apa makna kata “Berbagi”. Mungkin memang uang yang mereka miliki hanya cukup untuk patungan beli 1 ice cream. Saya jadi teringat kata-kata Yesus Kristus, bahwa mereka yang bisa berlaku seperti seorang anak kecil, yang pantas bagi kerajaan Allah.

2000 tahun yang lalu, Yesus dan 5000 pengikutnya beristirahat di tanah lapang. Mereka kelaparan, tetapi Petrus berkata kepada Sang Guru, bahwa tidak ada cukup uang untuk membeli makanan, hanya ada 5 buah roti dan 2 ikan. Peristiwa itu peristiwa itu kemudian dikenal dengan kisah Yesus mengubah 5 ikan dan 2 roti menjadi makan yang bisa mengenyangkan 5000 orang, sisanya 12 bakul. Mungkin memang Yesus adalah “Tuhan” yang pandai amat bermain sulap, sehingga sekali menjentikkan jari, segala sesuatunya menjadi mungkin. Tetapi ada kemungkinan juga, peristiwa itu tidak seperti yang kita kira selama ini. Melalui seorang Romo, saya mendengar versi berbeda, yang mungkin apabila saya lebih menyetujui kisah itu, saya bisa dicap sesat oleh orang Kristen.

Orang Israel adalah bangsa yang terkenal kikir dan keras kepala. Itu bisa dilihat dari gaya bahasa ibrani yang mereka pakai, penuh dengan frasa idiom sinisme. Bahkan untuk menyumbang saja harus dikasih aturan perpuluhan (Maleakhi 3:10), dan didukung lagi dengan Amsal 11:23. Semua yang berhubungan dengan hal memberi, harus dengan iming-iming dan aturan, baru mereka tergerak hatinya untuk berbagi. Pada peristiwa 5 roti 2 ikan, sebenarnya diantara 5000 orang itu, banyak yang membawa bekal. Memang tak sedikit pula yang tidak membawa apa-apa karena pengikut Yesus saat itu amat majemuk dan heterogen. Dari mulai gelandangan, pelacur, pesakitan, bahkan orang kaya dan terdidik. Tetapi ketika mereka yang membawa bekal tidak mau mengeluarkan bekalnya, lantaran takut mesti berbagi dengan mereka yang tak berpunya, maka Yesus memberi suatu contoh, dengan mengeluarkan dan mengangkat 5 buah roti beserta 2 ikan, kemudian membagikannya ke orang-orang di sekitar. Oleh karena Sang Guru yang memberi teladan, maka merasa tak enaklah mereka yang menyembunyikan bekal dan segan berbagi itu, sehingga akhirnya mereka ikut mengeluarkan bekalnya dan dibagikan ke sekeliling mereka yang kebetulan tidak berbekal. Makanlah 5000 orang itu, dan sisa dari acara makan-makan itu kalau dikumpulkan jadi 12 bakul.

Tetapi saya tidak menolak keyakinan bahwa Yesus menyulap ikan dan roti itu jadi banyak. Karena nilai terpenting dari kisah Alkitab ini bukanlah memperdebatkan benar atau tidaknya peristiwa itu seperti yang tertulis. Bagi saya, kalaupun Yesus bukan tukang sulap, melainkan seorang Guru Sejati yang mampu menggerakkan hati ribuan orang dengan suri-teladan, itu tetap sebuah Mujizat yang luar biasa, tanpa harus dibumbui kisah-kisah ajaib yang menggetarkan telinga.

6 orang anak di ekskalator yang berbagi ice cream, juga sebuah mujizat bagi saya, karena semangat berbagi telah ditunjukkan melalui kepolosan mereka, yang tidak mempersoalkan liur siapa paling bau, jijik, dan sebagainya. Kita tidak perlu mencontoh tindakan jilat ice cream rame-rame seperti mereka, tetapi tentunya peristiwa itu dapat dijadikan preseden untuk introspeksi, apakah kita masih memiliki semangat untuk berbagi buat sesama?

2 Respon:

tintabiru mengatakan...

Tergantung yg 12 bakul itu isinya apa. Sama nggak ama roti n ikannya.. Hehe..

Icha mengatakan...

akhirnya datang juga ko..... iya yah, kadang cara kita melihat sesuatu itu menentukan bagaimana kita mendapatkan pelajaran dari sesuatu tersebut. postingan yang membangun. thanks for sharing yah!

updet lagi dunk! ;P